Entah (dok. unsplash)

Entah

Aku terlalu cinta, atau terlalu bodoh.

Berkali kali kamu menggantikan posisiku dengan orang lain, berkali kali pula kamu jatuh cinta dengan orang lain.

Tapi aku, semestaku masih saja tentangmu, dari dulu, hingga saat ini.

Aku terlalu, entah terlalu cinta atau bodoh.

Kamu kembali membawa sakit hati akibat ulahnya.

Memintaku membantu menyembuhkan lukamu.

Hei, sadarlah, luka milikku akibatmu pun masih menganga.

Tapi, entah mengapa aku mempersilakanmu masuk lagi.

Ku pikir biarlah, membantu tidak pernah salah.

Namun yang salah aku, berharap lagi kita bersatu.

Hubungan ini adalah pertemanan, katamu, juga kataku.

Tapi hatiku berharap lebih, entah bagaimana hatimu, aku tidak tau, tidak pernah tau.

Aku harus menyalahkan siapa?

Kamu tidak bilang akan membersamaiku, lantas untuk apa aku menyalahkanmu?

Lalu, menyalahkan diriku sendiri? Bodoh.

Oh perasaan, bagaimana?

Jujur saja, saat kamu mengutarakan kesakitan hatimu akibatnya, ada rasa puas dalam hatiku, seperti berkata, rasakan!

Namun, tak tega berlama lama mensyukuri kesedihanmu, aku langsung mengasihanimu lagi.

Kasih sayang dalam hatiku masih tersisa untukmu.

Belum pantas dikatakan sisa, karena masih sangat melimpah.

Dan kini, aku bingung, pada diriku sendiri.

Sekarang kamu bukan siapa siapanya. Pun juga kamu bukan siapa siapaku.

Ku kira kamu kembali karena kamu sudah mengerti artiku dalam hidupmu.

Namun bukan, entah harus seperti bagaimana lagi, aku hanya partikel kecil bernyawa dalam semestamu.

Sedangkan kamu, sumber kehidupan semestaku.

Entah sampai kapan akan begitu.


Last Editor : Khairiyah Sartika
loading...
Komentar

Selamat Datang di Teen.co.id

Silahkan login/signup