Di Balik Punggung Senja (dok. unsplash)

Di Balik Punggung Senja

Renjana kembali datang menjemput.

Mengantar pada satu masa kala petang di pesisir.

 

Desir angin saling melambai dengan ilalang,

debur ombak sayup-sayup melagukan senandungnya,

langit lamat-lamat menampilkan warna-warni.

Jingga, biru, ungu.

Membaur dengan sisa kapas-kapas yang tak lagi memenuhi cakrawala.

 

Di balik punggung senja,

Ada rasa nyaman terduduk di tepian.

Nyaman yang hanya bisa kurasai sendiri.

Mataku bermain dengan riak-riak laguna yang memantulkan jingga dan biru.

Begitu damai meski sejenak.

 

Di balik punggung senja,

Ku ucapkan dalam sunyi, satu rasa yang kian membuncah kepada kamu yang tak kunjung menghangat.

 

Di balik punggung senja,

Hari rupanya kian beranjak menjadi gelap,

kita harus kembali pulang,

menyusuri hiruk pikuk manusia,

di bawah temaram jingga lampu jalanan kota.

Dengan senyap, ramai pada pemikiran masing-masing.


Last Editor : Khairiyah Sartika
loading...
Komentar