The Rajendras, Chapter 2. (dok. sorasarah)

Cerbung: The Rajendras (Chapter 2)

Al. 

Jam segini tumben banget gue udah rapih dan wangi. Padahal biasanya masih ileran mimpiin Princess Leia.

Hari ini, gue mau ketemuan sama sahabat lama gue. Namanya Dimas Gandewa Putra Winata alias Dimas si Playboy Cap Anemon Bau Telor Asin. Dimas ini teman SMP gue. Dulu akraaaaaaab banget sama gue. Kemana-mana berdua. Udah kaya laler homo.

Walaupun ceweknya segudang, Dimas ini punya trust issue. Lahir di keluarga multitriliuner kayak Winata bikin dia jadi enggak mudah percaya sama orang. Satu-satunya teman yang pernah ia ajak ke rumahnya cuma gue. Makanya, waktu gue pindah ke Yogya, Dimas patah hati banget.

Walaupun jarak membentang, berkat kemajuan teknologi, gue dan Dimas masih sering kontakan. Cowok itu tetap meng-update cerita-cerita tentang siapa aja cewek-cewek yang ia pacari dalam waktu bersamaan. Gue sih tinggal geleng-geleng aja. Sebagai penganut monogami sejati, gue enggak ngerti apa enaknya punya cewek banyak-banyak. Satu aja belum tentu habis!

Waktu gue turun ke ruang TV, Narsya si iblis dari neraka sedang tiduran di atas sofa. Isengin ah.

Gue nabok pantannya, "Toples nastar siapa nih digeletakin di sini?!"

"Enak aja lo!" Cewek itu mengambil posisi duduk lalu menimpuk gue pakai bantal, "Bukan toples nastar tapi gitar spanyoooolllll!!!!" serunya, "Eh, ko rumah sepi amat ya? Bi Asih kemana sih?"

Gue duduk di sebelahnya. Membuka toples berisi kue-kue kering bikinan Mbak Mar untuk dicemilin, "Auk! Ke warung kali."

"Oh.... ke warung ya...." Nadanya merendah. Senyum iblisnya mengembang. Feeling gue enggak enak, "Eh, Al... lo... laper enggak sih?"

"Enggak."

"Serius? Kayanya masak mie jam segini enak deh... Pakai telor sama rawit. Di atasnya dikasih bawang goreng deh."

"Oh, ya?"

"Iya." Narsya gelendotan, "Bikinin gue indomie dong, sayang." Melihat gue yang malah menutupi wajah pakai majalah, cewek itu merayu lagi, "Ayo dong, beb. Nanti malam gue beliin Yoshinoya deh."

Gue mencibir, "Kemurahan."

"Sayang maunya apa?"

"Angus steak."

"Jual diri aja sanah."

"Makanya bikin sendiri aja kek." Udah rapih-rapih begini malah disuruh masak indomie. Emang aura babu gue kenceng banget apa? "Paling males nih gue kalau Bi Asih lagi keluar. Pasti gue yang jadi korban."

Narsya mengangkat bahu, "Bukannya lo emang selalu jadi korban ya?"

"Iya juga sih..."

"Nah, yaudah! Cepet bikinin gue indomie!"

Gue melempar majalah di atas meja, "Serius lo, Sya? Dengan paha dan perut yang udah bergelambir begitu. Lo masih mau makan indomie?"

Cewek itu terdiam lalu menyentuh perutnya, "E-Enggak parah-parah amat ko!"

"Itu kan menurut lo. Yang  lihat kan orang lain." Gue menusuk perutnya, "Tuh, lihat! Jari gue sampai mendelep begitu. Wah, udah lah gawat ini mah. MAY DAY! MAY DAY!"

"Ih, apaan sih lo aja yang lebai!" Narsya sok-sokan nonton TV, "Udah ah enggak jadi. Malah bete nih gue!"

Berhasil :)

"Eh, BTW Sya, belom cerita lo kemarin! Ngomongin apaan aja lo sama Mas Ilham?" Mau berantem sampai bunuh-bunuhan pun, enggak tahan rasanya kalau enggak curhat-curhatan sama manusia setengah iblis ini.

Narsya mesem-mesem, "Ya, gitu. catch up tentang kabar masing-masing aja sih. Hari ini rencananya gue sama Iam mau lunch bareng sebelum gue interview kerja di daerah Senayan."

"Wuih, gercep lo ya udah main lunch aja! Emang Mas Ilham enggak punya cewek apa?" Udah mapan, cakep, baik, sopan lagi! Kalau enggak punya cewek ya berarti punya cowok!

Narsya ikutan nyemil kue kering. Wajahnya ditekuk seribu, "Enggak punya  tuh."

"Serius?" Masa sih? "Punya cowok juga enggak?"

"Sembarangan lu!" Narsya menjitak kepala gue, "Enggak ko. Iam enggak punya pacar."

"Bener? Jangan sampai gangguin pacar orang loh, Sya!" Tahu banget nih gue kalau Narsya cerita sambil melakukan hal lain kaya gini. Pasti ada yang disembunyiin.

"Apa sih lu? Enggak percayaan amat sama gue!" Narsya mengunyah kue keringnya keras-keras, "Gue juga males kali kalau ngarep sama laki orang!"

 "Yah, bagus deh kalau lo tahu diri." Awas aja ini orang kalau sampai bohong. Jangan cari-cari perkara deh sama gue, "Eh, lo ganti baju dong! Ntar teman gue mau dateng. Enggak enak dilihatnya kalau lo cuma pakai tank top sama celana pendek doang!"

"Yeeee, justru ketiban rejeki tuh temen lu bisa lihat gue pakai tank top!" Cewek itu menarik tali tank top nya, "Emang temen lo siapa sih? Dia anak sultan sampai gue harus ganti baju buat dia?"

"Bukan gitu. Cuman enggak enak aja kan kalau dilihat cowok lo lagi pakai baju kaya gitu? Nanti dijadiin bacol lagi." Mana Dimas lagi cowoknya. Ih! Amit-amit!

Narsya enggak langsung menjawab. Cewek itu memperhatikan gue dari ujung kaki sampai rambut, "Lo mau cabut ya?"

Gue merapihkan kerah kaus, "Iya. Ntar temen gue ke sini buat jemput."

"Ohhh, lo dijemput? Enggak bawa si Millennium Falcon?"

Millennium Falcon itu maksudnya mobil CRV putih kesayangan gue. Tadinya istri muda iblis ini ingin menamainya.... Mentos. Karena.... warnanya sama-sama putih. Kampung banget enggak sih? "Engga. Emang kenapa?" Hawa-hawanya mau nebeng nih.

"Anterin gue dong!" Tuhkan. Enggak bisa dengar mobil nganggur deh doi! "Lo lewat Senayan enggak? Eh, enggak juga bodo amat sih. Gue ada interview di deket situ jam tiga, sambil nunggu, mending gue muter-muter Sency dulu! Sekalian lunch sama Iam!"

"Sency apaan sih?" Tempat apaan lagi tuh? Sejenis carefoor ya?

"Senayan City, bego! Waktu kita pindah, Sency masih dibangun, sekarang udah jadi. Makanya gue mau lunch di sana." Cewek itu bangkit berdiri lalu ngeloyor ke kamar, "Gue ganti baju dulu. Nanti kasih tahu kalau teman lo udah sampe!"

Idih, seenaknya aja! "Perasaan gue belum jawab mau nganterin lo!"

"Lo pikir gue tadi nanya?" Teriak Narsya dari dalam kamar, "Gue nyuruh!"

-

"ALADDIN MY BRADEEERRRRR!!!!!!!!!!" Dimas turun dari Audy A6 warna hitamnya. Buset, wangi parfumnya nusuk banget! Habis mandi menyan lu? "Gila, udah lama banget ya, Nyet! Terakhir ketemu, lo masih segini." Cowok itu menaruh tangannya di bahu, "Udah lama sampai Jakarta?"

"Belom seminggu." Gue mengajaknya tos, "Pakabar lo, Dim! Makin subur aja badan lo!" Terakhir kami ketemu itu dua tahun lalu. Waktu Dimas lagi liburan ke Yogya. Cowok itu masih cekingggg banget. Sekarang badannya udah berbentuk. Biar pede kalau mau godain cewek kali ya, "Eh, kita mau cabut kemana sih? Kakak gue ikut ya! Dia minta dianterin ke Senayan City!"

"Selow lah. Kita emang mau ke Sency kok. Anak-anak pada nunggu di Q bill." Dimas celingukan, "Mana kakak lo? Eh, kakak lo yang mana nih?"

"Yang kedua. Yang bisa nyembur api." Gue mempersilahkannya masuk, "Masuk dulu lah! Ntar, gue minta bikinin minum sama Bi Asih."

"Ah, langsung aja deh! Biar ce-"

"Kita berangkat sekarang?" Narsya keluar memakai setelan kerja. Kemeja putih, blazer dan celana bahan warna hitam. Rambut panjangnya dicepol ke atas. Mungkin karena mau interview kerja, hari ini kakak gue itu memilih untuk tampil natural. Bibirnya bebas dari ulasan lipstick merah darah langganannya (Narsya nyebutnya 'merah lacur'). Setelah memakai jam tangan, cewek itu tersenyum sok manis pada Dimas, "Hai. Temennya Al?"

Dimas mengatupkan mulutnya yang setengah terbuka lalu mengangguk kaku. Wajahnya kaya habis melihat unicorn turun ke bumi, "I-iya, Mbak." Cowok itu mengajak Narsya salaman, "Dimas."

Gue mengerjap. Ngomong apa tadi dia???? Mbak?????

"Narsya." Cewek itu menyalami Dimas sekilas, "Berangkat sekarang yuk! Nanti keburu jam tiga nih!"

Gue mencibir, "Idih! Udah numpang tapi pro-"

"SIAP MBAK!" Dimas membukakan pintu depan untuk Narsya. Kelakuannya udah kaya pelayan istana aja, "Silahkan, Mbak."

"Woy!" Gue mengemplang belakang kepalanya. Apa-apaan nih? Kenapa lagak setinggi gunung Dimas langsung jongkok pas lihat Narsya? Enggak bisa dibiarin nih. I have a bad feeling about this, "Apa-apaan lo si Narsya duduk depan? Gue lah yang  duduk di sana!" Gue melompat naik ke kursi depan, "Cepetan dong! Jadi jalan enggak?"

Dimas membukakan pintu belakang untuk Narsya sambil senyum penuh arti. Si nenek sihir itu mah cuek aja. Pasti menurut dia, memang seharusnya semua orang memperlakukannya kaya princess!

Sepanjang perjalanan, bukannya melihat ke depan, Dimas enggak henti-hentinya memperhatikan Narsya lewat spion tengah, "Woy, nyetir tuh lihat depan! Jangan ngelihat spion tengah mulu! Mau jalan mundur lu?" tegur gue.

Narsya membuka cepolan rambutnya, lalu menyisirnya dengan jari, "Emang kalian mau pergi kemana sih?"

Dimas gercep menjawab, "Ke Sency juga, Mbak. Teman-teman Al udah pada nungguin di Q Bill hehehehe." Hehehehehehe? Lo gila ya, Dim?

"Alah, anak laki mainnya di mall! Main dimana kek!" Bukannya terima kasih karena udah dianterin malah nyinyir nih si nenek, "Ke kebon kek lu! Nyangkul kek, berternak sapi kek!"

Ngajak adu bacot nih orang, "Eh, di Jakarta mana ada keb-"

"Hahahahahahaha!" Dimas tiba-tiba ketawa sok asik. Waktu bertemu lampu merah, cowok itu lagi-lagi melirik Narsya dari spion tengah, "Bener banget tuh mbak! Harusnya mah anak laki mainnya di kebon ya!"

Narsya senyum tipis aja mendengar tanggapan Dimas. Sementara sohib gue itu udah mesem-mesem mesum. Enggak bisa dibiarin nih. Gue enggak akan membiarkan Dimas flirting sama kakak gue, "Eh, Dim, kuliah gimana? Udah daftar kampus mana aja lo? Nyopa PTN enggak?"

Dimas kembali memfokuskan pandangan ke jalan setelah gue kemplang untuk kedua kalinya, "Ah, males gue nyoba PTN. Harus bimbel-bimbelan. Swasta aja deh gue. Paling ntar daftar Trisakti. Lo gimana, Al? Mau masuk mana lo?"

"Enggak tahu deh. Mau ambil jurusan apa aja gue enggak tahu." Sebenarnya semalam nyokap udah nanya-nanyain, mau nyoba PTN mana dan ambil jurusan apa, supaya beliau tahu kapan sebaiknya mendaftarkan gue bimbel, tapi gue masih clueless. Baru pindahan tiba-tiba udah disuruh belajar lagi aja. Nafas dulu dong, Ma!

"Bukannya enggak tahu, emang lo nya aja yang males!" Narsya nimbrung dari belakang, "Eh, Dim, turunin gue depan Sency aja. Gue males ngikut kalian nyari parkir. Lama!"

"Serius, mbak? Banyak mobil loh kalau turun di sini..."  Dimas sok khawatir tapi tetap nepi juga. Setelah Narsya turun dari mobil, cowok itu bersiul sambil geleng-geleng kepala, "Kalau kita jadi saudara ipar enggak apa-apa kan, Al?"

Gue memastikan kakak gue hilang dibalik pintu Sency dengan selamat, lalu menatap Dimas tajam, "Jangan main gila sama gue, Dim."

-

Narsya

Kafe Betawi, Senayan City, 01:15 pm

"Udah jauh-jauh main ke mall tapi pesannya soto ayam lagi soto ayam lagi." Kebiasaan deh si Iam. Mau jalan-jalan ke tempat mana pun pasti nyarinya tetap makanan Indonesia. Ada banyak restoran recommended di  Sency, tapi pilihannya tetap jatuh pada Kafe Betawi, "Lo enggak pernah dengar tentang Secret Recipe atau En Dining ya?"

Iam ketawa sambil ngunyah. Dulu waktu kami masih SMP, mama dan Tante Elena sering banget ngajak kami jalan habis pulang sekolah. Zaman dulu tuh mainannya masih Taman Anggrek, Pasaraya Grande atau Plaza Semanggi. Setiap nyokap-nyokap kita belanja, gue dan Iam pasti dikasih duit buat cari makan sendiri. Gue selalu pingin makan Lasagna, tapi Iam pasti keukeuh nyari makanan Indonesia. Biar kenyang katanya, "Ko, lo enggak makan sih, Sya? Makan dong. Nanti malah lemas lagi pas di interview."

"Ini makan ko." Gue mengaduk-aduk es campur. Setiap ada Iam gue jadi enggak nafsu makan. Pinginnya bengong sambil ngelihatin wajahnya. Masih enggak percaya kalau sekarang kami enggak terpisah lagi.

Iam mengelap bibirnya  pakai tisu, "Eh, Sya, lo ingat teman SMA kita enggak si Ihsan sama Naya? Yang dulu sering dikira pacaran gara-gara berduaaaaa mulu?"

"Kayanya ingat deh. Yang dua-duanya anak osis kan?" Gue kan pindah pas kelas sebelas, makanya  lupa-lupa ingat, "Kenapa mereka?"

"Mereka udah punya anak loh! Pas nikahannya gue datang. Ternyata waktu dulu mereka tuh enggak pacaran, emang murni sahabatan aja. Nah, pas kuliah, baru deh si Ihsan mulai naksir-naksir sama Naya, tapi enggak berani bilang. Baru pas Naya habis putus sama cowoknya, Ihsan mulai berani ngedeketin."

"Oooooh." Kadang kalau mendengar cerita-cerita begitu gue jadi sedih sendiri. Andai aja papa mama enggak cerai. Andai aja kami sekeluarga enggak pindah ke Yogya. Andai aja gue tetap ada di samping Iam selama delapan tahun itu, mungkin cerita kami akan berakhir sama kaya Ihsan dan Naya, "Pasti senang banget ya mereka." Seperti kata orang, if you want to live a happy life then marry your best friend.

"Undangan nikahan mereka ada inisial I dan N nya." Iam menyeruput es teh manisnya, "Kalau gue sama lo nikah, mungkin undangannya kaya gitu juga."

"Apa?"

"Eh, itu cewek gue. Bentar ya." Iam menyamperi seorang cewek yang berdiri di pintu masuk. Cowok itu  mengelus puncak kepalanya sebentar, lalu menggandeng tangannya sembari berjalan kembali ke meja, "Sya, kenalin nih cewek gue. Nayla."

Gue senyum sok manis. Cih, nama apaan tuh Nayla? Buku Harian Nayla kali! Lagian, gue enggak suka ya gue dan Nayla berbagi inisial yang sama! Mualassss, "Halo. Narsya." Gue menyalaminya sambil men-scan cewek itu dari ujung rambut sampai kaki. Nayla memakai kemeja kerja warna pink pucat yang  gue yakin banget udah jadi barang sale di etalase toko karena modelnya udah super jadul. Cewek itu memadukan kemeja menyedihkan itu dengan rok span warna putih khas Mangga Dua dengan motif bunga di bagian pinggang. Dan heels warna kulit itu... Cih. Khas style 'cewek baik membosankan'. Hoaaam.

Now let's talk about her face, kulit kuning langsat, alis lurus sejajar, bulu mata yang sudah lentik dari sananya, kedua mata yang ramah...  Kalau dipoles sedikit lagi cewek ini bakal kelihatan cantik banget. Dan gimana caranya cewek ini tetap kelihatan segar tanpa pakai lipstick? Sialan! "Ko, baru datang, Nay? Makanannya si Iam udah habis tuh!"

"Iya nih. Baru beres kerjaannya sekarang, Sya." Nayla memukul bahu Iam lalu tertawa, "Emang nih! Si Iam kalau udah  laper enggak bisa nungguin orang!"

Iam? IAM? ENGGAK ADA YANG BOLEH MANGGIL ILHAM ITU IAM SELAIN GUE DAN LALAAAAAAAAAAAAA.

"Kamu pesen gih." Iam menawarkan Nayla buku menu, "Aku mau zuhur dulu."

Nayla membolak-balikan buku menu sebentar, lalu menutupnya. Gue pikir ia akan memanggil pelayan untuk memesan makanannya, tapi yang cewek itu lakukan malah menatap gue lurus-lurus sambil tersenyum, "Akhirnya aku bisa ketemu kamu, Sya! Dari dulu, Iam selaluuuu ngomongin tentang teman masa kecilnya yang pindah ke Yogya. Waktu Iam bilang kalau kamu balik ke Jakarta, dia senang banget. Aku juga. Soalnya aku jadi bisa kenalan deh sama teman cewek terdekat Iam!"

"Serius, Iam suka ngomongin gue?" Tuh, Nay! Enggak gerah apa lo dengar laki lo ngomongin cewek lain mulu? Mending lo putusin si Iam terus hibahin ke gue! "Emang, kenapa lo mau kenalan sama gue, Nay?"

"Ya, masa enggak mau sih kenal sama teman pacar sendiri? Lagian aku yakin banget, kamu pasti tahu tentang Iam lebih banyak daripada aku." Wajahnya berubah malu-malu, "Aku pingin tahu tentang Iam sebanyak kamu tahu tentang dia."

Dih? Yang pacarnya siapa? Kenapa jadi gue yang-, Sabar...  Sabar... Keep your friends close and your enemies closer, Narsya. Play. Your. Cards. Right, "Emang apa yang pingin lo tahu tentang Iam, Nay? Eh, lo udah pacaran berapa lama sih sama dia?"

"Baru empat bulan, Sya. Makanya, aku enggak ada apa-apanya deh dibanding kamu."

Oh. Masih seumur jagung. Bisa lah gue nyalip, "Terus, terus, apa sih yang  bikin lo naksir Iam, Nay? Secara Iam kan kolot banget orangnya... Enggak up to date, kaku, terus resek kalau disuruh temenin belanja. Malesin abis!"

Nayla menumpukan dagunya. Pandangannya teduh, "Tapi Iam orangnya seru, Sya. Enggak membosankan."

"Seru??? Iam malah ngebosenin abis kali, Nay! Anaknya main aman, enggak suka hal baru, enggak berani ambil resiko, terus anaknya hidup sesuai rutinitas aja. Bangun, kerja, pulang, tidur. Udah gitu doang! Apa serunya coba?" Eh, bentar, bentar. Terus, kenapa gue juga naksir dia ya?

Wajah Nayla tersipu-sipu kaya anak SMP yang  baru pertama kali ditembak, "Iya kamu bener, Sya. Iam emang enggak seru, tapi kalau di mataku cowok itu malah sebaliknya... Bukannya berarti Iam itu hebat banget ya?"

Gue memutar bola mata malas. Dasar cewek bego. Ya itu mah berarti sebabnya bukan ada di Iam. Lo merasa kaya gitu bukan karena Iam nya yang hebat, tapi emang lo nya aja yang budak cinta sampai hal yang jelas-jelas jelek malah kelihatan bagus di mata lo.

Tapi, gue enggak ngomong apa-apa. Yang gue lakukan malah tersenyum dan mengangguk setuju.

 Because i'm just as stupid as her.

-

Al. 

Toko Gunung Agung, Senayan City, 01:30 PM

"Ko, kita malah ke toko buku, Nyet? Katanya mau ke Q Bill!" Aneh banget ngelihat Dimas di kelilingi buku-buku. Kaya ngelihat Mr.Krab bagi-bagi duit ke anak yatim.

"Si Arin minta dibeliin bukunya Mark Haddon yang baru. Daripada lupa, mending gue beliin sekarang." Arin itu kakak ceweknya Dimas. Setahu gue, hubungan mereka emang enggak begitu dekat tapi setidaknya enggak saling bunuh kaya gue sama Narsya, "Bentar ya. Gue mau nanya mbak-mbaknya dulu."

Sambil nunggu, gue lihat-lihat section komik. Dulu gue lumayan rajin tuh baca komik Jepang. Bleach, Gintama, Prince of Tennis, Ranma 1/2...  tapi semuanya tergusur setelah demam Star Wars melanda. Eh, apa-apaan nih???? Ko, ada buku mewarnai Star Wars???? Borong ah...

Di ujung rak komik, seorang cewek kurus duduk di lantai. Punggungnya bersandar pada rak, tangannya membuka-buka komik Detective Conan entah jilid berapa dengan setengah hati. Sekali-kali cewek itu menghela nafas sambil melirik jam tangannya. Wajahnya kusut abis. Seperti sedang menanti waktu untuk disembelih, "Woy, La."

Lala mengangkat wajahnya. Bawah matanya menghitam karena kurang tidur. Tulang pipinya menonjol karena terlalu tirus. Cewek itu mengulas lipstick warna pink segar di bibirnya, tapi hal itu enggak membuat wajahnya jadi lebih hidup. Ia kelihatan lesuuuuuh banget. Kaya vampire belum makan dua hari, "Eh, Al..." Responnya datar. Bibirnya enggak repot-repot mengulas senyum sama sekali, "Ngapain di sini?"

"Nemenin temen." Gue ikutan duduk di sebelahnya. Aroma jeruk yang familiar menyusup hidung gue. Kenapa sampo lo wangi jeruk, La? Bukannya buah kesukaan lo itu stroberi? Kalau gue sih paling suka melon (Yang nanya tunjuk tangannnyaaaaa) "Lo sendiri ngapain di sini, La?"

"Emang enggak kelihatan?" Lala mengangkat komiknya, "Gue lagi baca komik."

"Kalau mau baca komik,  kenapa enggak baca di rumah aja?"

"Suka-suka gue lah." Lala memasukkan komik Conan itu ke dalam tas keranjang yang sebentar lagi akan meledak karena kebanyakan isinya. Geez, lo beli berapa komik, La? "Enggak copot tuh lengan lo baca tas seberat itu?"

"Yang copot lengan gue ini bukan lo."

Gue ketawa aja. Lucu ya. Walaupun udah sewindu enggak ketemu, Lala benar-benar enggak berubah. Masih tetap suka baca komik, tetap sepucat vampire (uh-oh), tetap kurus (iya), tetap jutek (pastinya), tapi gue malah suka lihatnya. Senang rasanya mengetahui kalau ada hal yang tetap sama saat semuanya sudah berubah.

Cewek itu melirik tangan gue yang penuh dengan buku-buku mewarnai Star Wars lalu ketawa. Tadi jutek, sekarang ketawa. So Lala, "Masih Star Wars, Al?"

Gue menunjukan belanjaan gue sambil tersenyum bangga, "Always." Dulu, gue sering banget nyeret Lala untuk nonton Star Wars bareng, supaya cewek itu ikutan suka juga. Tapi baru lima belas menit film mulai, Lala pasti udah ketiduran. Kasihan. Kasihan banget orang-orang yang enggak suka Star Wars. KASIHAAAAANNNN DEH LOOOOOEEEEEEEE!!!!!!

"Eh, La, lo ke sini sendiri?"  Kalau iya, gue pingin ngajakin dia buat ikutan kumpul di Q Bill. Ngobrol-ngobrol aja... Habis, kemarin enggak sempat cerita-cerita banyak karena Lala lebih sering dijajah Narsya. Heran gue. Enggak kakak, enggak adek, diembat dua-duanya sama si kunti, "Ikut gue aja yuk! Gue mau ke Q bill sama teman gue."

Lala mencangklongkan tas belanjanya, "Enggak bisa. Cowok gue mau nyusul."

Oh, "Lo udah berapa lama sih pacaran sama cowok lo?"

"Jalan setahun."

"Siapa namanya?"

"Jordy."

"Cakep?"

Baru kali ini Lala menoleh, "Banyak nanya lo ya."

Gue mengangkat bahu. Habis aneh sih. Masa ngomongin pacar sendiri lemes amat? Gue kan pingin lihat lo dikelilingi aura love birds, La. Secara, dulu kan kerjaan kita mainan monopoli sama ngerjain PR. Mana pernah ngomongin cinta-cintaan? Kan, gue kepo. Lala kalau sedang jatuh cinta tuh gimana sih? Kayanya itu pemandangan yang enggak pernah gue lihat dari lo deh.

Lala memijat kening sambil menggigit bibirnya, "La, lo enggak apa-apa? Muka lo pucet banget loh. Lo sakit ya?"

"Emang muka gue begini kali."  Jawabnya sok enggak apa-apa. Padahal jelas-jelas wajahnya nahan nyeri.

"Oooooh, berarti lo belum makan ya?" Gue memperhatikan pergelangan tangannya yang rapuh banget. Disentil doang bisa patah kali, "Mau gue temenin makan, La? Di sini pasti ada bubur kan?" Dari kecil, Lala enggak pernah ditolak setiap ditawari bubur.

"Gue udah makan ko, Al."

"Berarti makannya kurang banyak kali."

"Enggak  kok."

"Masa sih?"

"Iya. Eh, lo ngapain ke sini, Al?"

"Loh, kan tadi udah nanya...  Gue ke sini tuh nemenin temen..." Tambah watir gue, "Tuhkan, enggak fokus.. Lo kurang Aqua ya? Mau gue beliin minum, La?"

"Enggak usah." Melihat wajah gue yang enggak yakin, cewek itu meyakinkan, "Gue enggak apa-apa, Al." Hape Lala bunyi. Cewek itu melihat nama yang tertera di layar, lalu membuang nafas capek sebelum menjawab panggilannya, "Halo? Iya aku udah sampe daritadi... Kamu dimana sih? Hah? Siapa yang protes sih?"

Gue menjauh supaya cewek itu bisa ngobrol lebih leluasa. Tapi semakin lama ngobrol semakin stress wajahnya. Lala mematikan hapenya lalu pamit, "Gue duluan ya, Al. Cowok gue udah sampe."

"Oh... Iya...."  Lo beneran enggak apa-apa, La?

Lala tersenyum sekilas, tapi sebelum cewek itu benar-benar pergi, gue menahan tangannya, "Kenapa, Al?"

Gue merogoh kantung celana. Mengambil beberapa permen Relaxa yang gue dapat dari kembalian Indomart lalu menaruhnya di telapak tangannya, "Nih, buat lo. Dimakan ya, La. Gue takut lo pingsan."

Lala menatap tiga butir permen Relaxa di tangannya bingung, "Gue beneran enggak apa apa loh, Al. Ntar lo nyesel lagi udah khawatirin gue tahunya gue sehat-sehat aja." Ia lalu ketawa, "Gue duluan ya. Thanks permennya."

"Oke...." Waktu cewek itu hendak berbalik pergi, gue menahannya lagi, "Eh, tunggu!"

"Apaan lagi sih?" tanyanya enggak sabar.

"Em.... Kapan-kapan kita jalan yuk, La. Ngobrol-ngobrol aja gitu... Narsya sama Mas Ilham aja hari ini udah lunch bareng. Kita enggak boleh kalah, La!" Singkatnya, gue pingin banget ngobrol banyak sama lo, La.

Lala melirik jam tangannya. Sepertinya udah harus benar-benar pergi, "Oke. Nanti gue kabarin. Duluan ya, Al."

Gue dadah-dadah, "Byeeeee, La! Semoga permennya belom kadarluarsa!"

-

Narsya.

Rumah, 10:35 PM

"Loh, Mar, kenapa nangis?" Kaget gue. Tadinya pingin ngambil air minum di dapur, tapi gue malah menemukan Mariska menangis sendirian di ruang TV. Cewek itu belum ganti baju, berarti baru sampai rumah "Lo baru balik ya?" Karena enggak dijawab, gue nanya lagi, "Lo kenapa, Mar? Ko, nangis sih? Tanaman lo ada yang mati ya?"

Kakak gue itu menggeleng sambil mengelap hidungnya, lalu menoleh saat mendengar suara pagar rumah dibuka. Pasti Al deh.

"Loh, Mbak Mar kenapa?" Al langsung menhampiri Mariska. Cowok itu bau rokok banget, "Sya, lo habis nangisin Mbak Mar, ya? Cepet minta maaf!"

"Enak aja! Gue aja enggak tahu kenapa dia nangis!" Baru pulang main nuduh aja lo! "Lagian lo kenapa sih, Mar, pakai nangis segala lagi! Bikin kaget aja!"

"Diem lo! Jangan ngomelin Mbak Mar! Minggir!" Al mendorong gue supaya ia bisa duduk di sebelah Mariska, "Lo kenapa, Mbak?"

Setelah sesenggukannya reda, Mariska mulai cerita, "Tadi aku habis dari Rawabelong, pulang naik angkot terus turun di depan komplek. Terus pas aku lagi jalan, di belakang aku ada motor. Isinya cowok dua orang. Tiba-tiba salah  satu dari mereka meremas pantat aku terus kabur sambil ketawa-tawa. Aku kaget banget. Teriak pun enggak bisa. Akhirnya aku lari aja sampai rumah." Mariska mengambil tisu bersih lalu mengelap wajahnya. Bahkan dalam keadaan seperti ini, cewek itu masih bisa berusaha  tersenyum, "Maaf ya kalian jadi  khawatir, tapi aku sekarang udah enggak apa-apa ko."

Gue hendak pergi ke dapur untuk membuatkannya teh hangat, tapi enggak jadi setelah melihat ekspresi Al. Wajah cowok itu mengeras, lalu dalam satu gerakan, Al mengambil kunci mobil dan berlari keluar.

"AL!!!! ALLL!!!" Gue mengejarnya ke garasi lalu menarik lengannya, "Lo mau ngapain sih?"

"LO ENGGAK DENGAR MBAK MAR HABIS DIAPAIN?!" Gue enggak pernah melihat Al semarah ini. Em...  pernah sih. Waktu salah satu lightsaber-nya gue patahin (sumpah enggak sengaja!) tapi kali ini beda. Cowok itu kelihatan sangat marah dan...  Hancur. Seakan seseorang baru aja mematahkan hatinya.

"Ya, terus lo mau ngapain? Ke kantor polisi?" Gue berusaha merendahkan suara supaya Mariska enggak bisa dengar. Bisa tambah pusing dia kalau dengar adik-adiknya malah adu suara, "Jangan macam-macam deh lo. Udah, mending lo masuk terus temenin Mariska!"

"Lo paham enggak sih, Sya? Kakak gue habis digituin terus lo pikir gue bakal diem aja?!" Al menyalakan Millennium Falcon, "Minggir! Gue mau kejar itu anjing!"

"Emang lo tahu mereka siapa? Lo pernah lihat mukanya?" Gue menghadang pintu mobil, "Jangan gila, Al! Lo mau cari mereka pakai cara apa?"

Al enggak menjawab. Cowok itu menjambak-jambak rambutnya frustasi, "Brengsek, brengsek, brengsek!!!!!!"

Gue menghela nafas. Enggak tega lihatnya.

Jangan salah paham. Gue juga marah dan sedih mendengar Mariska habis digituin. Tapi buat Al ini lebih dari sekedar kemarahan karena kakaknya habis dilecehkan, "Seharusnya gue temenin dia, Sya. Seharusnya gue anterin dia pulang!!!" Al menendang ban Millennium Falcon keras-keras, "Mbak Mar tadi sebenarnya nelepon gue minta dijemput. Tapi gue enggak bisa. Tadi kan gue ke Sency dijemput. enggak bawa Millennium Falcon, makanya dia balik sendiri." Suaranya bergetar. Entah karena nahan nangis atau marah, "Salah gue. Ini salah gue, Sya!!!"

Gue menahan tangannya supaya cowok itu berhenti menyakiti dirinya sendiri, "Bukan salah lo, Al. Kan, lo memang enggak bawa mobil, gimana caranya mau jemput dia?"

"Tapi kan gue bisa jemput dia naik taksi, Sya! Gue bisa cari cara supaya dia enggak pulang sendiri tapi kenapa... Aaarrrgg!"

"Al...." Gue menariknya untuk duduk di balkon. Tangannya  gemetaran. Bahkan lebih hebat daripada Mariska. Al pasti jauh lebih marah dengan dirinya daripada cowok-cowok brengsek itu. Semenjak Papa pergi, Al mengemban beban sendiri kalau dia harus menjaga gue, Mariska dan mama. Kejadian ini pasti menamparnya tepat di wajah. Seakan-akan memberitahu kalau ia telah gagal, "Al, dengerin gue...  Ini bukan salah lo." Gue menangkup wajahnya, "Ini. Bukan. Salah. Lo."

Al membuang muka lalu mengelap wajahnya. Ikutan nangis juga dia.

Gue mengelus-elus pundaknya, "Udah, jangan cengeng. Mending sekarang lo temenin Mariska. Kalau perlu lo tungguin depan kamarnya. Ntar gue bikinin kopi deh yang banyak biar mata lo melek terus."

Cowok itu berkata di sela-sela nangis sok manly-nya, "Terus lo ngapain? Sibuk 10 Steps Korean Skin Care?" Kalau udah bisa ngebales gini berarti Al udah baikkan. Dasar, "Gue temenin lo lah." Gue mengajaknya berdiri, "Mariska kan kakak gue juga."

Al mengambil nafas panjang lalu membuangnya pelan-pelan, "Gue masih pingin mukulin mereka."

"Gue juga." Darah preman kita emang paling kental ya, Al? "Tapi yang paling penting sekarang itu bukan mereka tapi Mariska."  Gue menepuk-nepuk pundaknya lalu membukakan pintu, menyuruhnya kembali masuk.

Al bergeming. Cowok itu menatap pintu masuk lama. Seakan-akan bertanya apa masih pantas untuk masuk ke sana, "Al."

Cowok itu membalas ragu, "Apa?"

"I love you." Gue tersenyum, "Thanks for being my brother." And my best friend too.

 Al diam sebentar. Gue pikir cowok itu akan membalasnya dengan kalimat-kalimat menyebalkan atau mengernyit jijik, tapi ia malah ketawa, "I love you too, sis."

*Bersambung*

loading...
Komentar

Selamat Datang di Teen.co.id

Silahkan login/signup