I'm Here, Too

Punya kepribadian yang sedikit boyish bukan berarti bukan cewek kan?

Alesha (16) cewek tomboy yang hobinya main basket, boxing juga taekwondo. Alesha punya kebiasaan ngebela teman-teman ceweknya dari gangguan murid cowok yang usil. Gara-gara itu Alesha jadi idola cewek-cewek di sekolahnya, tapi karena kepopulerannya sebagai super hero kaum cewek dan musuhnya kebanyakan cowok ini malah jadi ngebuat Alesha susah buat deketin gebetannya, Dean, cowok super cool, pinter nan tampan di sekolahnya. Segala cara Alesha lakuin supaya bisa ngedeketin Dean tapi tetap aja Dean gak pernah peka tuh sama perasaan Alesha.

Kaki Alesha berjalan perlahan melewati kelas IPS 1, kelasnya Dean. Matanya melirik cepat dari kaca jendela ke arah Dean biasa duduk. Dino yang sejak tadi berjalan di samping Alesha melirik sinis temannya yang kelakuannya mirip kayak maling rumah.

"Lo persis deh lesh kayak maling rumah," celetuk Dino.

Alesha menghentikan langkahnya seketika dan melirik tajam pada Dino. "Udah deh lesh lo gak akan di notice sama si pangeran kesiangan lo kalau lo belum manjangin rambut lo kayak rapunzel," ucap Dino cuek sambil ngeluyur pergi ninggalin Alesha yang masih berdiri di koridor. Sejenak, pikiran Alesha melayang memikirkan perkataan Dino. Haruskah gue manjangin rambut gue demi dia? batin Alesha. Mata dan hati Alesha sepertinya hanya melihat Dean seorang, tidak ada yang lain.

Hari demi hari rambut bondol Alesha perlahan mulai hilang, berganti rambut yang sedikit demi sedikit memanjang. Alesha juga jadi jarang masuk kelas taekwondo dan boxing, kelas yang ia ikuti di luar sekolah bersama Dino.

"Lesh, lo kemana aja sih? kok gue perhatiin lo jarang masuk kelas taekwondo sama boxing sekarang?" tanya Dino penasaran.

Tangan Alesha sibuk membuka halaman demi halaman buku sejarahnya. "Lo marah sama gue yaa, Lesh?" tanya Dino lagi. Namun, Alesha masih diam nggak merespon pertanyaan dari temannya itu. Dino berdiam sejenak, matanya terus menatap Alesha yang duduk tidak jauh dari tempatnya. Tangan Dino meraih handphone yang ada di sakunya dan jari-jarinya sibuk mengetikkan pesan dan puluhan pertanyaan di ruang ngobrolnya di Line.

"Lesh, serius deh lo ada masalah apa sih? Lo marah sama gue?" tanya Dino tidak sabar.

Alesha menatap datar Dino yang sudah diri di samping mejanya lagi. "Gue lagi gak mood, ceritanya nanti aja yaa," ucap Alesha. Mendengar itu, Dino menyerah dan kembali ke tempat duduknya.

Teng... Teng... Teng...

Bel pulang dibunyikan, sontak dengan cepat semua murid merapikan buku-buku mereka dan berlarian keluar kelas untuk pulang. Dino mencegat langkah Alesha untuk pulang dengan tatapan tajam mengarah padanya.

"Cerita sekarang," pinta Dino.

"Gue jatuh cinta sama Dean, No, dan gue bakal berubah demi dia," balas Alesha dengan nada pelan.

Mata Dino melongo tidak percaya. "Lesh, haruskah lo sampe segininya? Jadi diri lo sendiri aja. Kalau emang dia juga suka sama lo dia bakal terima lo apa adanya kok," ucap Dino menasehati Alesha. Omelan Dino kayaknya benar-benar masuk ke seluruh jaringan otak Alesha. Dia terus memikirkan omongan Dino sepanjang perjalanan pulangnya.

Alesha terus berkaca melihat dirinya yang masih berambut pendek, walau sekarang sudah sedikit lebih panjang. Dengan badan berisi sedikit otot hasil boxing dan kulit cokelat. "Hah, jangankan Dean, anak depan rumah juga belum tentu mau sama gue kalau lihat wujud gue yang lebih mirip cowok begini. Ahhh!" keluh Alesha sendiri di depan kaca kamarnya.

Sabtu sore ini, tidak seperti hari sabtu lainnya. Karena hari ini Alesha sudah menyiapkan mental dan mempertaruhkan segala harga dirinya untuk menyatakan perasaannya pada Dean, setelah semalaman galau, harus terus jadi secret admirer atau menyatakan secara langsung perasaannya sama pangeran pujaannya itu. Keputusannya akhirnya jatuh pada pilihan untuk menyatakan langsung perasaannya.

Alesha sampai pergi ke salon dan membeli dress di atas lutut dengan bawahan mekar ala girlband hanya untuk terlihat lebih feminim di depan Dean. Walaupun sedikit aneh kalau cewek yang nembak duluan, tapi setidaknya ini satu-satunya cara biar Dean tahu perasaannya. Dengan hasil memohon dan merengek sama Dino, Alesha berhasil membujuk Dino untuk mengantarkannya menuju komplek perumahan Dean.

Alesha menemui Dean di lapangan basket di komplek rumahnya, tempat biasa Dean main basket. Kakinya melangkah perlahan supaya tidak jatuh karena harus memakai high heels. Tepat! sesuai dugaan Alesha, Dean lagi main basket sendirian di lapangan itu. Dino memilih menunggu di dalam mobil.

"Dean" panggil Alesha lembut. Dean pun berbalik dan menatap kaget ke arah Alesha yang tiba-tiba muncul dengan pakaian serba rapi kayak mau ke pesta.

"Alesha. Tumben lo ada di daerah sini. Sama siapa?" tanya Dean ramah.

Alesha gugup, "Gue... mau ngomong penting sama lo, Dean." Sumpah jantung gue mau copot sekarang, batin Alesha.

"Ngomong aja, lesh. Ada apa?" balas Dean.

"Gini sebenernya gue... suka sama lo Dean."

Kata-kata itu akhirnya keluar juga dari mulut Alesha. Ekspresi Dean super duper nge-blank dan nggak tau mesti berbuat apa. Dia cuma bengong menatap Alesha yang ada di hadapannya.

"Ummm, Lesh. Gue nggak ngerti ini kenapa lo tiba-tiba di sini dan nembak gue tapi... sorry banget Lesh gue udah punya pacar," jawab Dean gagap.

Alesha kini balik menatap ke arah Dean. Keduanya saling menatap dengan tatapan bingung. Alesha merasa harga dirinya hancur berkeping-keping mendengar penolakan dari Dean. Otaknya terasa kosong. Dia hanya merasa malu dan bingung dengan posisinya.

"Oh, um... maksud gue, gue suka sama lo dalam artian fans gitu. Iya gitu Dean," ucap alesha akhirnya asal. Dean pun terlihat cukup lega, ia menarik nafasnya perlahan.

"Ahahahaha kayaknya gue ya yang salah paham di sini. Gue jadi malu," ucap Dean.

"Kalau gitu gue pamit ya. Gue juga mau jalan sama keluarga gue. Bye," pamit Alesha langsung pergi dengan seribu langkah menuju mobil Dino.

"Huaaaaaaaaaaaa dino gue malu banget. Gue ditolaaaaaak!!!" tangis Alesha sepanjang jalan di dalam mobil.

Dino pun menghentikan mobilnya sejenak, menunggu Alesha tenang. Tetesan hujan mulai membasahi kaca mobil. Bunyi hujan deras pun sedikit mengurangi kencangnya suara tangisan Alesha di dalam mobil.

"Lesh, udah dong nangisnya. Yang penting kan lo sekarang gak usah repot-repot berubah demi dia lagi," ucap Dino.

"Tapi gue malu, No!" balas Alesha masih dengan air mata yang perlahan reda.

"Tapi gue suka kok cewek berani kayak lo," ucap Dino sontak membuat alesha terhenti dari tangisnya.

"Lo ngomong apa barusan? Gue nggak denger," ucap Alesha ingin memperjelas.

"Gue... suka... sama lo Alesha," ucap Dino lembut sambil kedua tangannya memegangi pipi chubby Alesha yang basah karena air mata. Alesha hanya menatap kosong Dino. Ia terkejut bahwa temannya sedari dulu ternyata sudah menyukainya tetapi yang dia lihat hanyalah Dean.

"Yah, walaupun gue gak sekeren Dean. Tapi setidaknya gue nggak akan buat lo nangis Lesh," ucap Dino membuat Alesha tersenyum bahagia. Ternyata ada seseorang yang selalu menunggu dia, mendukungnya, dan selalu ada untuknya walaupun selama ini Alesha selalu melihat Dean yang bahkan tidak pernah menoleh ke arahnya.

"Maaf, No, gue nggak pernah ngeliat lo walaupun lo selama ini selalu ada buat gue," ucap Alesha dengan nada pelan.

"Bahkan walaupun lo terus jalan dan nggak pernah ngeliat ke belakang gue bakal tetap ada walaupun lo ngeliat gue cuma sebagai bayangan," ucap Dino sukses membuat Alesha berkaca-kaca karena bahagia.

Komentar

Selamat Datang di Teen.co.id

Silahkan login/signup